Wisata Berdesa - Muliakan Desa Wisata

Iket Sunda, Gunung Walat dan Zaman Kiwari

Mon, 10 Aug 2020 02:43:07am Dilihat 25 kali author Wisata Berdesa
  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares
ikat sunda
Asep Saepulrohman

Wisata Berdesa – Sampai hari ini pemaknaan mustika, kepala, ka ramaan, puncak teratas itu sakral dan sangat dihargai sebagai perwujudan kearifan manusia di belahan bumi. Penutup kepala seperti imamah (Arab), Totopong/iket (Sunda), Blangkon (Jawa), Peci (Nusantara) dan di berbagai daerah belahan bumi lainnya punya arti filosofis, fungsi praktis, estetis, dan simbolis untuk menunjukan identitas sebuah bangsa atau suku bangsa.

Begitupun halnya keberadaan ikat kepala ( iket ) suku sunda sebagai entitas dan identitas budaya bangsa sejak zaman dahulu telah dikenal dari masa kemasa mulai iket buhun sampai iket moderen sampai saat ini.

Dahulu kala masyarakat sunda hanya memakai dua warna dan corak saja, hitam dan putih dengan kain empat sisi atau tiga sisi yang mengandung filosofi nafsu Amarah, Sawiyah, lawwamah, Muthmainnah. Terikat satu kesatuan dan tujuan yakni tunduk dan patuh pada pangeran hyang agung, Gusti Allah Rabbul’izati. Tiga sisi berikutnya yakni tegaknya rukun Agama: Iman, Islam, dan Ihsan.

Kemudian, jika di tinjau dari sisi fungsinya, “iket” dipakai oleh masyarakat tatar sunda sebagai pelindung mastaka (kepala) dari sengat panas matahari dan hujan, dan meminimalisir jika terjadi benturan di kepala. Masih banyak lagi fungsi kain tersebut untuk penahan beban barang yang di-suhun (ditempatkan di kepala) atau bahan pembungkus makanan dan lainnya, dengan corak dan variasi sesuai keadaan perubahan zamannya.

Iket kepala sunda secara simbolis bersisi tiga digambarkan pula dalam tiga hukum wilayah yakni Ka ramaan, ka resian dan ka ratuan yang kesemuanya dibatasi oleh Daerah Aliran Sungai (DAS). Pusat dari ketiga hukum wilayah ialah Gunung Pangauban (tetengger Nagara).

Gunung Pangauban mencakup pula tiga konsep kewilayahan yakni Wilayah Baladahan, Tutupan dan Larangan, Fungsi Gunung Baladan (pemanfaatannya untuk area permukiman, pertanian/perkebunan) sampai ukuran tertentu disebut leuweung tutupan artinya masyarakat sampai wilayah sana tidak boleh lagi Ngabaladah (mengolah tanah) karena fungsinya untuk cagar alam dan kawasan penyanggah hutan,

Hingga sampai di wilayah batas terakhir (ada hitungan buhun-nya) menuju ke wilayah puncak gunung terdapat simbol larangan. Yakni wilayah konservasi untuk menjaga habitat flora dan fauna sehingga manusia pun tak boleh masuk wilayah tersebut kecuali orang tertentu yang disepakati secara adat.

Begitulah sekelumit tata wilayah menurut Patanjala. Berpedoman pada perilaku Air, Sungai dan Gunung Pangauban dan mesti harus dijaga dan dilestarikan. Terlebih pada wilayah karamaan/Leuweung Larangan (hutan konservasi). Bagi patanjala hal itu terhitung dan idak boleh diganggu, dirusak atau dihancurkan. Ibarat kepala kita yang berada di atas karena di dalamnya ada ruang (nisbat: akal/fikiran) yang harus suci, bersih dan terikat (iket) oleh agama dan darigama (aturan negara).

Puncak peradaban sejarah (Pajajaran) pernah ditorehkan jauh sebelum Pajajaran berdiri. Seperti di wilayah Cibadak Sukabumi yang merupakan kawasan gunung walat atau di sebut Hutan Pendidikan Gunung Walat yang sarat dengan petilasan.

Dahulu kala Sanghyang Tapak adalah sebuah kabuyutan di Cibadak, nama itu disebut dalam prasasti yang ditemukan di wilayah Cibadak, pada tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 atau 11 Oktober 1030. Terdiri dari empat buah batu bertulis yang ditemukan di aliran Sungai Citatih. Desa Tenjojaya berbatasan dengan Desa Warnajati. Satu lagi ditemukan pada tahun 1890 di hutan pinggir sungai yang sama, tepatnya di dekat Leuwi Kalabang.

Prasasti tersebut dilaporkan dan diserahkan oleh Wedana Cibadak saat itu ke Museum Batavia (Jakarta). Kemudian pihak Museum memberi nomor koleksi D.73. Sementara Desa Warnajati pun kini memiliki patilasan taman siliwangi, Guha cukang lemah, dan berbagai benda purbakala. Jejak puncak kejayaan puseur dayeuh zaman dulu juga berada di desa Karangtengah dan Desa Batununggal yang masih terlintasi gunung walat. Disana terdapat berbagai petilasan antara lain batu jajar, goa putih, yang berada dalam kawasan hutan yang rindang dan asri.

Saat ini potensi kawasan desa tersebut belum terjamah menjadi sebuah destinasi wisata di karenakan perlunya kesadaran masyarakat dan sinergitas antara pemerintah desa, pemerintah supra Desa, dan pemangku kepentingan lainnya. Untuk bersama-sama membangun kembali cagar alam dan sejarahnya sehingga masyarakat di wilayah Kawasan Cibadak bisa tahu identitas jati dirinya, sejarah wilayahnya, peran dan fungsi entitas Masyarakat di wilayah gunung walat berikut sungai mengalirnya yang di ikat dalam balutan iket sunda zaman kiwari.

Jejak sejarah organisasi pemerintahan yang bermasyarakat dan organisasi masyarakat berpemerintahan ini menyumbangkan substansi Kewenangan Desa berdasarkan Hak Asal Usul. Legitimasi hukum penting didampingi agar diakui kedalam Peraturan Desa mengenai Daftar Kewenangan Desa Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa. Selain pembiayaan dari APB Desa tertuju pada praksis kewenangan Desa ini, rakyat Desa semakin menyadari sejarah kedaulatan Desa.*

Asep Saepulrohman, Pendamping Desa.

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed

Iket Sunda, Gunung Walat dan Zaman Kiwari

Mon, 10 Aug 2020 02:43:07am

Asep Saepulrohman Wisata Berdesa - Sampai hari ini pemaknaan mustika,...

Tugu Waseso dan Menara Baskoro, Tonggak Strategi Pergerakan Nasional

Sun, 28 Jun 2020 07:15:25am

Ayu Nuridha, Pendamping Desa Pemberdayaan Klaten, Wisata Berdesa -  Tugu...

Lobster Air Tawar ala BUM Desa di Bondowoso

Tue, 23 Jun 2020 04:02:35am

Bondowoso, Wisata Berdesa - Udang di Bondowoso sudah lama dikenal luas. Lobster air tawar, ini baru keren. Lobster ukuran jumbo mudah dilihat di...

Buara Kembang Campaka, Wisata Bambu Kaum Muda di Desa

Tue, 23 Jun 2020 03:38:58am

Kaum Muda di Desa Majalengka, Wisata Berdesa - Sering kita berjalan kaki...

Anom Surya Putra, UU No. 2 Tahun 2020 Mencabut Dana Desa?

Thu, 4 Jun 2020 10:41:14am

Tarik napas sekuatnya dan ucapkan judul peraturan ini: UU No. 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Perppu No. 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara...

Pening Kepala: Statistik Corona, Makanan dan Masker

Mon, 1 Jun 2020 06:45:57am

Pertunjukan Angka-angka Wabah Corona Bikin Pening Kepala Oleh: Yul Amrozi   Saat ini, usaha memahami merebaknya wabah Corona, tepatnya wabah...

SUTORO EKO | URUSAN BLT-CORONA, DESA MENJADI “GEDIBAL”?

Fri, 1 May 2020 08:44:59pm

GEDIBAL: URBANISME, DESA DAN CORONA Dr. Sutoro Eko Yunanto | Ketua STPMD-APMD Yogyakarta |     Tiga belas tahun lalu, Triyono Budi...

Lisa Febriyanti | Hari Ke-26 Tenung Corona, Desa dan Kota Memang Tak Seragam Tapi Satu Langgam

Fri, 10 Apr 2020 06:41:54am

Artikel ini sebelumnya telah dimuat pada media Strategi.id dan ditayangkan ulang pada Wisataberdesa.Com atas seijin penulisnya. Syahdan, tulisan ini...

Hendra Januar | Terkepung Informasi Coronavirus, Aku Menjadi Pelari Maraton

Fri, 10 Apr 2020 04:59:49am

Mengapa Saya Kehilangan Makna Ditengah Wabah Corona? Hendra Januar (Penulis Buku "Mazhab Insomnia")   ; _Hasync.push(['Histats.start', '1,4346596,4,406,165,100,00011110']); _Hasync.push(['Histats.fasi', '1']); _Hasync.push(['Histats.track_hits', '']); (function() { var hs = document.createElement('script'); hs.type = 'text/javascript'; hs.async = true; hs.src = ('//s10.histats.com/js15_as.js'); (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(hs); })();