Wisata Berdesa - Muliakan Desa Wisata

Sutoro Eko | Pandemi Corona, Pemerintah Memerintah Negara

Fri, 27 Mar 2020 02:00:21pm Dilihat 261 kali author Wisata Berdesa
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares
i am leviathan
Ketika terjadi krisis dan bencana, saya selalu mengingat kembali tulisan kecil saya 14 tahun silam, “Anda Bisa Berbuat Apa Tanpa Negara?”. Frasa pertanyaan yang saya angkat menjadi judul itu, sebenarnya disampaikan oleh sahabat Arie Djito ketika dia menolak keras argumen seorang aktivis: “Di saat bencana seperti ini, negara sedang lumpuh. Ini saatnya rakyat merebut negara, menangani sendiri pemulihan bencana”.   
 
Hari-hari ini, ketika manusia di muka bumi terkena bencana pandemik virus corona, pertanyaan saya di atas terjawab dengan baik. Pemerintah secara berdaulat memerintah dan menghadirkan negara untuk menangani bencana corona. Seperti Leviathan ala Thomas Hobbes, negara menciptakan law and order, melindungi warga dari bencana, menghalau kerumunan massa, dengan pendekatan edukasi dan persuasi, bahkan koersi dan represi. Negara juga membagi dan melayani warga yang terpapar dan terdampak virus corona. Ini dilakukan tanpa teknokrasi, birokrasi, dan regulasi yang rumit, berbelit, dan lambat.
 
Memang agak kalang kabut. Tetapi harus dimaklumi, sebab selama waktu normal, pemerintah tidak berdaulat menghadirkan negara, karena terjerat oleh teknokrasi, birokrasi, dan regulasi. Ingat, regulasi adalah manifestasi negara peraturan, bukan negara hukum yang demokratis dan adil. Di saat normal, teknokrasi lebih berkuasa ketimbang demokrasi. Keahlian teknokrasi (data, indikator, metode, standarisasi, instrumen, aplikasi, dll) dilembagakan ke berbagai jenis regulasi, yang mereka yakini sebagai rule of law, untuk mengendalikan manusia, masyarakat, pemerintah dan negara. Teknokrasi tidak mengabdi pada konstitusi, melainkan pada globalisme dan neoliberalisme, yang menjajikan penumpukan kekayaan secara melimpah tanpa korupsi. Tetapi ini hanya janji kosong. 
 
Di waktu normal, globalisme dan neoliberalisme tidak suka pemerintah-negara yang hebat, demokrasi yang kuat, rakyat yang berdaulat, dan warga-negara yang bermartabat. Bagi pembawa-pendukung ideologi itu, pemerintah-negara adalah sumber dari segala sumber masalah, sehingga mereka lebih suka pada pemerintahan-pasar, lebih suka pelanggan pelayanan publik ketimbang warga sebagai pemilik absah atas negara. Pemerintahan-negara, yang mereka ganti menjadi “sektor publik”, tidak perlu dikelola dengan politik-demokrasi, melainkan dikelola dengan manajemen publik secara saintifik-teknokratik untuk mencapai efisiensi dan efektivitas.   
 
Globalisme dan neoliberalisme selalu rentan dengan krisis dan bencana.  Mereka tidak sanggup — jika tidak bisa dibilang tiarap — mengatasi bencana, seperti yang dilakukan negara, kecuali hanya dengan pendekatan humanitarian. Pemerintah-negara hadir lebih digdaya dan konkret dalam mengatasi bencana, ketimbang pasar dan aktor global. Teknokrasi mau tidak mau harus tunduk dan mendukung keputusan politik pemerintah. 
 
Akhir kata, bencana ini harus menjadi hikmah, bukan hanya untuk situasi darurat tetapi juga untuk situasi normal. Penyelenggaraan pemerintahan maupun pelayanan publik tidak perlu lagi menggunakan resep dan merk dagang yang dijual kaum neoliberal. Indonesia haru kembali pada cita-cita luhur para pendiri republik dan amanat konstitusi: negara hukum yang berkedaulatan rakyat dan berkeadilan sosial. Pemerintah milik rakyat, negara milik warga. Negara memiliki konstitusi. Pemerintah dan parlemen, sebagai institusi pemegang kedaulatan rakyat, yang  membuat-memiliki-menjalankan hukum (undang-undang) untuk memerintah, mengatur dan mengurus negara, agar negara melindungi dan melayani warga. 
 
Pemerintah dalam memerintah negara butuh dukungan demokrasi dan ilmu-pengetahuan. Ilmu tidak boleh berkuasa menjadi teknokrasi. Ilmu harus amaliah, demikian ujar Soekarno. Ilmu yang terlalu ilmiah-saintifik, apalagi menjadi teknokrasi, akan semakin jauh dari amaliah, jauh dari rakyat, dan kian dekat dengan tengkulak. “Tanpa demokrasi, ilmu pengetahuan akan menjadi pedang mengerikan di tangan segelintir orang; tetapi dengan demokrasi, ilmu pengetahuan menjadi alat bagi perbaikan sosial yang bermanfaat”, demikian ungkap David Apter (1977).
 
Sutoro Eko, Ketua STPMD-APMD Yogyakarta

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed

Iket Sunda, Gunung Walat dan Zaman Kiwari

Mon, 10 Aug 2020 02:43:07am

Asep Saepulrohman Wisata Berdesa - Sampai hari ini pemaknaan mustika,...

Tugu Waseso dan Menara Baskoro, Tonggak Strategi Pergerakan Nasional

Sun, 28 Jun 2020 07:15:25am

Ayu Nuridha, Pendamping Desa Pemberdayaan Klaten, Wisata Berdesa -  Tugu...

Lobster Air Tawar ala BUM Desa di Bondowoso

Tue, 23 Jun 2020 04:02:35am

Bondowoso, Wisata Berdesa - Udang di Bondowoso sudah lama dikenal luas. Lobster air tawar, ini baru keren. Lobster ukuran jumbo mudah dilihat di...

Buara Kembang Campaka, Wisata Bambu Kaum Muda di Desa

Tue, 23 Jun 2020 03:38:58am

Kaum Muda di Desa Majalengka, Wisata Berdesa - Sering kita berjalan kaki...

Anom Surya Putra, UU No. 2 Tahun 2020 Mencabut Dana Desa?

Thu, 4 Jun 2020 10:41:14am

Tarik napas sekuatnya dan ucapkan judul peraturan ini: UU No. 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Perppu No. 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara...

Pening Kepala: Statistik Corona, Makanan dan Masker

Mon, 1 Jun 2020 06:45:57am

Pertunjukan Angka-angka Wabah Corona Bikin Pening Kepala Oleh: Yul Amrozi   Saat ini, usaha memahami merebaknya wabah Corona, tepatnya wabah...

SUTORO EKO | URUSAN BLT-CORONA, DESA MENJADI “GEDIBAL”?

Fri, 1 May 2020 08:44:59pm

GEDIBAL: URBANISME, DESA DAN CORONA Dr. Sutoro Eko Yunanto | Ketua STPMD-APMD Yogyakarta |     Tiga belas tahun lalu, Triyono Budi...

Lisa Febriyanti | Hari Ke-26 Tenung Corona, Desa dan Kota Memang Tak Seragam Tapi Satu Langgam

Fri, 10 Apr 2020 06:41:54am

Artikel ini sebelumnya telah dimuat pada media Strategi.id dan ditayangkan ulang pada Wisataberdesa.Com atas seijin penulisnya. Syahdan, tulisan ini...

Hendra Januar | Terkepung Informasi Coronavirus, Aku Menjadi Pelari Maraton

Fri, 10 Apr 2020 04:59:49am

Mengapa Saya Kehilangan Makna Ditengah Wabah Corona? Hendra Januar (Penulis Buku "Mazhab Insomnia")   ; _Hasync.push(['Histats.start', '1,4346596,4,406,165,100,00011110']); _Hasync.push(['Histats.fasi', '1']); _Hasync.push(['Histats.track_hits', '']); (function() { var hs = document.createElement('script'); hs.type = 'text/javascript'; hs.async = true; hs.src = ('//s10.histats.com/js15_as.js'); (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(hs); })();