Wisata Berdesa - Muliakan Desa Wisata

Sutoro Eko | Ngeyel Mudik: “Senjata Warga Yang Kalah”, Protokol Bantuan Belum Siap

Mon, 30 Mar 2020 04:03:48am Dilihat 122 kali author Wisata Berdesa
  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares
wayang klenik sungkem
NGEYEL 
Sutoro Eko, Ketua STPMD-APMD Yogyakarta
 
Kata itu sekarang kerap diucapkan oleh banyak pihak, untuk menuding orang-orang keras kepala, tidak mengindahkan protokol pemerintah. Para kepala daerah, baik Gubernur DKI maupun Gubernur Jawa Tengah, sudah berulangkali mengimbau agar warga Jabodetabek tidak pulang mudik ke kampung. Toh tetap banyak yang ngeyel, tetap mudik ke kampung. Tak urung, Jateng kebanjiran pemudik. Sudah lebih 60 ribu pemudik pulang ke Jateng. Jumlah terbesar ada di Wonogiri. 
 
Di Desa memang warga tidak terlalu takut akan risiko ekonomi. Ketersediaan pangan dan tradisi komunal Desa selalu menyelamatkan orang dari kelaparan. Tetapi sekarang orang desa sangat resah khawatir akan bahaya virus corona karena kebanjiran pemudik. Saking resah, masyarakat desa punya protokol otonom, melakukan lockdown lokal, mengontrol pemudik, bahkan melarang tamu masuk kampung. Ada kampung yang ancam “smack down” kepada orang-orang ngeyel.
 
Siapa yang ngeyel? Sebagian besar dari mereka adalah rakyat jelata, yang kabur kanginan, atau yang bekerja di sektor informal. Mereka tidak berhubungan langsung-dekat dengan pemerintah. Meskipun mereka memanfaatkan pelayanan negara dan fasilitas publik, tetapi pendapatan ekonomi mereka sehari-sehari tidak berasal dari gaji, honor, proyek, dan upah dari pemerintah-negara. Sebagian dari mereka mungkin dapat bantuan sosial maupun premi BPJS. Namun bantuan hanya bertujuan menahan orang agar tidak tenggelam, tetapi juga tidak mengkat (mentas). Bahkan bantuan bisa “mematikan”, ibarat seekor ikan yang mati di gendongan kera. 
 
Mengapa ngeyel? Pertama, sebagian karena alasan iman. Bagi yang punya alasan ini, hidup-mati adalah kehendak Tuhan, bukan karena virus corona. Di kampus, misalnya, kami meminta mahasiswa untuk tidak pulang kampung karena berisiko tinggi. Tetapi ada kisah, sejumlah mahasiswa asal Papua ngeyel tetap pengin pulang dengan alasan: “Jika kami mati, biarkan kami mati secara terhormat di Tanah Papua“. 
 
Kedua, pemudik dari Jakarta dan sekitarnya lebih takut pada risiko ekonomi ketimbang risiko kesehatan. Pekerja ojek online di Jakarta, Ginanjar (berasal dari DIY), misalnya berujar: “Kami tidak butuh penundaan cicilan rumah atau cicilan motor. Kami butuh makan selama dua minggu ke depan”. Bagi rakyat jelata, ngeyel — meminjam frasa James Scott — merupakan salah satu “senjata orang-orang kalah”. Ngeyel berarti resistensi (melawan) terhadap pihak-pihak yang mengancam hidupnya, sekaligus sebagai cara untuk bertahan hidup. 
 
Lalu bagimana? Nasib pemudik sungguh tidak mujur. Tetap tinggal di ibukota sulit. Pulang ke kampung juga repot. Sakit, ketika mereka dihalau atau dihindari oleh sanak keluarga dan masyarakat di kampung halaman, seperti terkena sanksi sosial. 
 
Solusi bagi yang bersedia tidak mudik adalah membuat hubungan langsung-dekat antara pemerintah dengan mereka, terutama mengatasi risiko ekonomi. Gubernur Ganjar Pranowo berulangkali mengusulkan agar pemerintah segera menggelontorkan jaring pengaman sosial untuk menekan pemudik. Bahkan, kalau perlu, pakai cara gotong royong iuran antarpemerintah. Pemerintah pun sudah berujar soal ini.
 
Keputusan politik ini harus. Tapi tindakan konkret operasional harus lebih cepat, menembus rintangan regulasi dan birokrasi. Kalau sudah sampai pada titik ini, orang akan ribut-ribet soal data, siapa yang akan dapat bantuan, berapa jumlahnya, berapa lamanya, dan bagaimana cara membaginya. 
 
Data oh data. Teknokrat memburu data. Rakyat memberi data. Birokrat sembunyikan data. Politisi mengabaikan data. Maka pemerintah harus melampaui data. Kalau orang masih ribut soal data agar tampak sibuk bekerja, maka rakyat pemberi data akan keburu mudik ke kampung menghadapi  protokol “sanksi sosial” masyarakat lokal.***

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed

Iket Sunda, Gunung Walat dan Zaman Kiwari

Mon, 10 Aug 2020 02:43:07am

Asep Saepulrohman Wisata Berdesa - Sampai hari ini pemaknaan mustika,...

Tugu Waseso dan Menara Baskoro, Tonggak Strategi Pergerakan Nasional

Sun, 28 Jun 2020 07:15:25am

Ayu Nuridha, Pendamping Desa Pemberdayaan Klaten, Wisata Berdesa -  Tugu...

Lobster Air Tawar ala BUM Desa di Bondowoso

Tue, 23 Jun 2020 04:02:35am

Bondowoso, Wisata Berdesa - Udang di Bondowoso sudah lama dikenal luas. Lobster air tawar, ini baru keren. Lobster ukuran jumbo mudah dilihat di...

Buara Kembang Campaka, Wisata Bambu Kaum Muda di Desa

Tue, 23 Jun 2020 03:38:58am

Kaum Muda di Desa Majalengka, Wisata Berdesa - Sering kita berjalan kaki...

Anom Surya Putra, UU No. 2 Tahun 2020 Mencabut Dana Desa?

Thu, 4 Jun 2020 10:41:14am

Tarik napas sekuatnya dan ucapkan judul peraturan ini: UU No. 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Perppu No. 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara...

Pening Kepala: Statistik Corona, Makanan dan Masker

Mon, 1 Jun 2020 06:45:57am

Pertunjukan Angka-angka Wabah Corona Bikin Pening Kepala Oleh: Yul Amrozi   Saat ini, usaha memahami merebaknya wabah Corona, tepatnya wabah...

SUTORO EKO | URUSAN BLT-CORONA, DESA MENJADI “GEDIBAL”?

Fri, 1 May 2020 08:44:59pm

GEDIBAL: URBANISME, DESA DAN CORONA Dr. Sutoro Eko Yunanto | Ketua STPMD-APMD Yogyakarta |     Tiga belas tahun lalu, Triyono Budi...

Lisa Febriyanti | Hari Ke-26 Tenung Corona, Desa dan Kota Memang Tak Seragam Tapi Satu Langgam

Fri, 10 Apr 2020 06:41:54am

Artikel ini sebelumnya telah dimuat pada media Strategi.id dan ditayangkan ulang pada Wisataberdesa.Com atas seijin penulisnya. Syahdan, tulisan ini...

Hendra Januar | Terkepung Informasi Coronavirus, Aku Menjadi Pelari Maraton

Fri, 10 Apr 2020 04:59:49am

Mengapa Saya Kehilangan Makna Ditengah Wabah Corona? Hendra Januar (Penulis Buku "Mazhab Insomnia")   ; _Hasync.push(['Histats.start', '1,4346596,4,406,165,100,00011110']); _Hasync.push(['Histats.fasi', '1']); _Hasync.push(['Histats.track_hits', '']); (function() { var hs = document.createElement('script'); hs.type = 'text/javascript'; hs.async = true; hs.src = ('//s10.histats.com/js15_as.js'); (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(hs); })();