Wisata Berdesa - Muliakan Desa Wisata

Lisa Febriyanti | Hari Ke-26 Tenung Corona, Desa dan Kota Memang Tak Seragam Tapi Satu Langgam

Fri, 10 Apr 2020 06:41:54am Dilihat 41 kali author Wisata Berdesa
  • 97
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    97
    Shares
IMG-20200410-WA0004

Artikel ini sebelumnya telah dimuat pada media Strategi.id dan ditayangkan ulang pada Wisataberdesa.Com atas seijin penulisnya. Syahdan, tulisan ini ditulis pada suatu malam tanpa bintang.

TENUNG CORONA, BERJUDI DENGAN ALAM SEMESTA

Ananta Lisa Febriyanti (Penulis Novel SADAJIWA; Penggiat Budaya dan Perlindungan Anak)

Pada 15 Maret 2020, Jokowi berpidato dan menyatakan secara resmi rembesan covid 19 telah menjebol pertahanan Indonesia. 

Tidak hanya di Indonesia, tak satu pun perbatasan negara di dunia mampu menghadang masuknya “tenung” corona

Indonesia masuk ke dalam inkubasi.

Pembatasan sosial diberlakukan. Yang pertama diliburkan adalah lembaga pendidikan, menyusul kantor-kantor pemerintah, kantor swasta, lalu berturut-turut ruang-ruang ekonomi, ruang kreatif, seni dan budaya terhenti, semua yang melibatkan pertemuan tatap muka langsung dihadang oleh sesuatu yang tidak kasat mata, tenung. 

Mantra dahsyat yang ada dalam tenung sepertinya tidak tebang pilih. 

Menyebar di udara, awalnya dicurigai datang dari pasar nelayan di Wuhan, sebuah jenis makhluk laut dituduh sebagai penyebabnya. 

Lalu diketahui bahwa transmisi terjadi dari manusia ke manusia. 

Awalnya dinyatakan penularan hanya melulai droplet, lalu informasi terkini menyatakan, udara bisa membawa tenung itu. Menyasar ke siapa saja, hingga sekarang semua wajib menggunakan masker. 

Sampai hari ini saya belum mendapatkan data secara pasti nama semua yang terpapar dan terlebih dari golongan mana, apa status sosialnya, jenis kelamin dan usia. Sebuah “genosida” tanpa wajah, seperti ketika Thanos menghilangkan dan mengirim separuh warga bumi ke dimensi entah dimana. 

Di Indonesia, sampai hari ke 26 ini telah bermunculan gerakan perlawanan terhadap covid. 

Mulai dari kepatuhan pada pembatasan social dengan kampanye #stayathome hingga gerakan kemanusiaan untuk turun tangan membantu yang belum memiliki akses perlindungan. 

Dan hari ini telah banyak pula yang bergerak untuk memperkuat ekonomi, menjaga sesamanya agar tidak kelaparan. Yang diam di rumah melancarkan kampanye melalui online, berkicau di media sosial tentang apapun yang ada dalam pikiran mereka untuk mengingatkan, menguatkan juga mengkritisi.  Yang masih di luar dengan turun langsung, bertaruh energi, bergerak secara militan, juga mengingatkan dan menguatkan. 

Apapun dilakukan, dengan tempo yang secepat-cepatnya, disertai penuh harap keadaan segera membaik. Baik yang di dalam maupun di luar, bertarung dalam keterbatasan. Baik yang di dalam maupun di luar bertarung dengan satu tanya besar: kapan kondisi ini bisa berakhir. 

Di kota, media sosial dan ruang virtual riuh dengan berbagai tayangan online, berkomunikasi virtual, setiap hari menggantikan tatap mukanya melalui jaringan data. 

Di Desa, lebih adem ayem, yang telah memiliki kesadaran Covid diam di rumah saja, yang tak takut, tetap beraktivitas seperti biasa. 

Beragam, tetapi semua ada satu langgam, tak ingin menyerah. 

Ini seperti pertandingan lari marathon, membuat beberapa di antara yang terlibat terlihat tanda-tanda terengah-engah, resah, dan belum mampu menurunkan ketakutan di hampir satu bulan rembesan tenung itu terjadi.  

Bertarung di satu lintasan, tanpa bisa melintas dengan bebas. 

Bertarung? Sebenarnya apa yang sedang kita pertarungkan ini? Apakah manusia sedang bertarung dengan virus? Dengan tenung? Atau apa?

Siapapun peluncur tenung ini, saya sudah tidak lagi membahasnya. Bagi saya, siapapun dia atau mereka, telah berjudi dengan alam semesta. 

Tenung, ketika dilancarkan bukan semata membawa kekuatan dari peluncurnya, tetapi memanggil kekuatan alam semesta untuk ikut mengamplifikasi mantra yang disabdakan. 

Menggunakan unsur-unsur dalam dirinya dan entah sengaja atau tidak sengaja mengundang kekuatan yang lebih besar untuk membiakkan. 

Perjudian ini tak layak untuk dipertarungkan memang. Apa yang bisa kita lakukan jika yang dihadapi adalah udara yang mengandung mantra itu?

Di hari ke 26 ini, saya mencatat satu hal mengenai model pertarungan ini. Bagi saya, sejak mulai bergerak sebagai bagian dari relawan di Jawa Timur, bukan tenung itu lawan kita. Ia yang telah menjadi gelombang bola salju besar dan meruyak banyak pertahanan. 

Perlawanan itu adalah tentang diri kita sendiri. Tentang manusia. Semampu apa kita memahami sebuah fenomena global untuk masuk ke dalam diri kita sendiri. 

Semua kicauan, semua gerakan kemanusiaan tidak akan genap tanpa kita memahami fenomena ini secara makrokosmos dan mikrokosmos. Dalam mikrokosmos manusia, semua hal kemudian dihadapkan pada sebuah cermin untuk melihat sampai dimana kemanusiaan kita. 

Apakah kita mampu memahami semua kondisi ini sebagai bagian dari pemaknaan ulang terhadap kata MANUSIA. Saya menitikberatkan pada kata itu, karena sudah menjadi jelas bahwa tenung ini bertranmisi lewat manusia.

Kita telah ditantang untuk melihat ke dalam, bukan ke luar. Ke dalam diri kita sendiri. Dari perjudian itu kita ditantang untuk mendedah keterbatasan dari luar, bukan keterbasan dalam diri manusia. 

Saya melihat, ketakutan, saya juga melihat keberanian, saya melihat kejahatan, saya juga melihat kebaikan dalam rentang waktu serangan tenung ini. Lebih nyata. 

Kita ditantang untuk mengenali dan memaknai lebih dalam tentang kebebasan sebagai manusia. Dan kabar buruknya, tantangan itu datang dalam bentuk ketidakbebasan gerak. 

Kewenangan akan hidup datang dari Sang Pencipta, tetapi untuk apa kita hidup, adalah sebuah kebebasan yang diberikan pada manusia. 

Tantangan kita memaknai kebebasan itu. Tafsir atas kata kebebasan itu silakan dimaknai oleh masing-masing, sesuai dengan panggilan hidup. 

Ras manusia yang terancam dihabisi tenung itu, apakah hanya berdiam diri dan tetap pada kebiasaannya yang semula setelah ini usai? Atau pemaknaan akan hidup akan berubah menjadi lebih baik? 

Jikalau demikian, patutkah kita mengucapkan terima kasih pada sebuah tenung hasil perjudian?

*Malam Tanpa Bintang*

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed

Iket Sunda, Gunung Walat dan Zaman Kiwari

Mon, 10 Aug 2020 02:43:07am

Asep Saepulrohman Wisata Berdesa - Sampai hari ini pemaknaan mustika,...

Tugu Waseso dan Menara Baskoro, Tonggak Strategi Pergerakan Nasional

Sun, 28 Jun 2020 07:15:25am

Ayu Nuridha, Pendamping Desa Pemberdayaan Klaten, Wisata Berdesa -  Tugu...

Lobster Air Tawar ala BUM Desa di Bondowoso

Tue, 23 Jun 2020 04:02:35am

Bondowoso, Wisata Berdesa - Udang di Bondowoso sudah lama dikenal luas. Lobster air tawar, ini baru keren. Lobster ukuran jumbo mudah dilihat di...

Buara Kembang Campaka, Wisata Bambu Kaum Muda di Desa

Tue, 23 Jun 2020 03:38:58am

Kaum Muda di Desa Majalengka, Wisata Berdesa - Sering kita berjalan kaki...

Anom Surya Putra, UU No. 2 Tahun 2020 Mencabut Dana Desa?

Thu, 4 Jun 2020 10:41:14am

Tarik napas sekuatnya dan ucapkan judul peraturan ini: UU No. 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Perppu No. 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara...

Pening Kepala: Statistik Corona, Makanan dan Masker

Mon, 1 Jun 2020 06:45:57am

Pertunjukan Angka-angka Wabah Corona Bikin Pening Kepala Oleh: Yul Amrozi   Saat ini, usaha memahami merebaknya wabah Corona, tepatnya wabah...

SUTORO EKO | URUSAN BLT-CORONA, DESA MENJADI “GEDIBAL”?

Fri, 1 May 2020 08:44:59pm

GEDIBAL: URBANISME, DESA DAN CORONA Dr. Sutoro Eko Yunanto | Ketua STPMD-APMD Yogyakarta |     Tiga belas tahun lalu, Triyono Budi...

Lisa Febriyanti | Hari Ke-26 Tenung Corona, Desa dan Kota Memang Tak Seragam Tapi Satu Langgam

Fri, 10 Apr 2020 06:41:54am

Artikel ini sebelumnya telah dimuat pada media Strategi.id dan ditayangkan ulang pada Wisataberdesa.Com atas seijin penulisnya. Syahdan, tulisan ini...

Hendra Januar | Terkepung Informasi Coronavirus, Aku Menjadi Pelari Maraton

Fri, 10 Apr 2020 04:59:49am

Mengapa Saya Kehilangan Makna Ditengah Wabah Corona? Hendra Januar (Penulis Buku "Mazhab Insomnia")   ; _Hasync.push(['Histats.start', '1,4346596,4,406,165,100,00011110']); _Hasync.push(['Histats.fasi', '1']); _Hasync.push(['Histats.track_hits', '']); (function() { var hs = document.createElement('script'); hs.type = 'text/javascript'; hs.async = true; hs.src = ('//s10.histats.com/js15_as.js'); (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(hs); })();