Wisata Berdesa - Muliakan Desa Wisata

Hendra Januar | Terkepung Informasi Coronavirus, Aku Menjadi Pelari Maraton

Fri, 10 Apr 2020 04:59:49am Dilihat 62 kali author Wisata Berdesa
  • 53
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    53
    Shares
Diogenes Si Gila

Mengapa Saya Kehilangan Makna Ditengah Wabah Corona?

Hendra Januar (Penulis Buku “Mazhab Insomnia”)

 

Hendra Januar, Purwakarta

Saya semakin tidak mengerti dunia yang saya huni akhir-akhir ini. Banyak hal yang terus berkembang dan bergerak dengan cepat. Seperti aliran sungai deras yang didorong dari hulu, saya merasa kehilangan makna.

Ibarat berada di tengah lalu lintas tanpa lampu merah, dunia mengajak saya untuk ikut berlari, entah kemana. Setiap hari saya dibombardir informasi dari segala arah, sampai-sampai saya tidak tahu mana informasi yang benar dan mana yang tidak. Setiap orang menjadi penyambung lidah dari realitas. Dan sialnya, tidak jarang saya terbawa kecepatan arus yang sulit dibendung.

Saya mengalami keterlemparan yang tidak disadari, dari satu isu ke isu lainnya, dari satu lelucon ke lelucon lain yang tak lagi menghibur. Semua perasaan campur aduk tak karuan; suatu saat saya merasa tak peduli, tapi pada saat yang sama saya dipaksa peduli. Saya sedang mengalami strange moment, masa yang aneh, di dunia yang sama anehnya.

Di tengah sirkuit informasi itu, saya berusaha mencoba menangkap satu makna yang tetap, tapi selalu berujung kegagalan. Saya tidak tahu apa sebenarnya semua ini. Di masa isolasi diri selama satu bulan penuh dalam rumah, perenungan saya seperti pelari maraton yang tidak tahu kemana akan tiba. Terus saja berlari dan tidak jarang malah menjauhkan diri dari realitas konkret. Suatu saat ada pesan masuk via whatsapp dari seorang kawan yang beryanya, “Lagi di mana?”

Itu pertanyaan mudah seharusnya, tapi tiba-tiba saya merasa sulit menjawab. ‘Di mana’ menunjuk satu tempat, berada di sini atau di sana yang empirik. Tapi juga bisa berarti tempat yang bersifat ontologis – sebuah realitas yang berada di seberang yang di sini atau di sana. Alhasil, saya tidak tahu sedang berada di mana. Tapi untuk mempermudah percakapan, saya berikan jawaban yang dia maksudkan, “Saya lagi di rumah.”

Seorang kawan bilang, saya mengalami aktivitas berpikir yang berlebihan, over thinking, sebutan lain dari kenyataan bahwa saya menganggur. Tapi saya juga apa batas “berlebihan” dalam pikiran. Apakah pikiran ada batasnya, di mana ketika saya sampai di sana, maka secara otomatis pikiran saya berhenti?

Apakah ini disebabkan karena saya memang tidak menyukai simpul-simpul abstrak, teoritik, yang disusun dengan rumus-rumus pasti, sementara saya memaksakan diri untuk menangkap makna tetap dari realitas yang terus berubah, dari hari ke hari bahkan dari detik ke detik?

Saya tidak tertarik untuk mengabaikan realitas dengan mencerabut eksistensinya ke dalam kategori-kategori dalam pikiran dengan cara yang tradisional; atau dengan metode saintifik yang melulu mengukur satu benda dan mengabaikan eksistensinya. Tapi konsekuensinya, saya terjebak pada das nicht atawa ketiadaan makna.***

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed

Iket Sunda, Gunung Walat dan Zaman Kiwari

Mon, 10 Aug 2020 02:43:07am

Asep Saepulrohman Wisata Berdesa - Sampai hari ini pemaknaan mustika,...

Tugu Waseso dan Menara Baskoro, Tonggak Strategi Pergerakan Nasional

Sun, 28 Jun 2020 07:15:25am

Ayu Nuridha, Pendamping Desa Pemberdayaan Klaten, Wisata Berdesa -  Tugu...

Lobster Air Tawar ala BUM Desa di Bondowoso

Tue, 23 Jun 2020 04:02:35am

Bondowoso, Wisata Berdesa - Udang di Bondowoso sudah lama dikenal luas. Lobster air tawar, ini baru keren. Lobster ukuran jumbo mudah dilihat di...

Buara Kembang Campaka, Wisata Bambu Kaum Muda di Desa

Tue, 23 Jun 2020 03:38:58am

Kaum Muda di Desa Majalengka, Wisata Berdesa - Sering kita berjalan kaki...

Anom Surya Putra, UU No. 2 Tahun 2020 Mencabut Dana Desa?

Thu, 4 Jun 2020 10:41:14am

Tarik napas sekuatnya dan ucapkan judul peraturan ini: UU No. 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Perppu No. 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara...

Pening Kepala: Statistik Corona, Makanan dan Masker

Mon, 1 Jun 2020 06:45:57am

Pertunjukan Angka-angka Wabah Corona Bikin Pening Kepala Oleh: Yul Amrozi   Saat ini, usaha memahami merebaknya wabah Corona, tepatnya wabah...

SUTORO EKO | URUSAN BLT-CORONA, DESA MENJADI “GEDIBAL”?

Fri, 1 May 2020 08:44:59pm

GEDIBAL: URBANISME, DESA DAN CORONA Dr. Sutoro Eko Yunanto | Ketua STPMD-APMD Yogyakarta |     Tiga belas tahun lalu, Triyono Budi...

Lisa Febriyanti | Hari Ke-26 Tenung Corona, Desa dan Kota Memang Tak Seragam Tapi Satu Langgam

Fri, 10 Apr 2020 06:41:54am

Artikel ini sebelumnya telah dimuat pada media Strategi.id dan ditayangkan ulang pada Wisataberdesa.Com atas seijin penulisnya. Syahdan, tulisan ini...

Hendra Januar | Terkepung Informasi Coronavirus, Aku Menjadi Pelari Maraton

Fri, 10 Apr 2020 04:59:49am

Mengapa Saya Kehilangan Makna Ditengah Wabah Corona? Hendra Januar (Penulis Buku "Mazhab Insomnia")   ; _Hasync.push(['Histats.start', '1,4346596,4,406,165,100,00011110']); _Hasync.push(['Histats.fasi', '1']); _Hasync.push(['Histats.track_hits', '']); (function() { var hs = document.createElement('script'); hs.type = 'text/javascript'; hs.async = true; hs.src = ('//s10.histats.com/js15_as.js'); (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(hs); })();