Wisata Berdesa - Muliakan Desa Wisata

Filsuf Svenja Flaßpöhler | Melawan Coronavirus, Bukan Sekedar Tindakan-Medis

Fri, 3 Apr 2020 05:00:27pm Dilihat 50 kali author Wisata Berdesa
  • 33
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    33
    Shares
filsuf svenja f

Berhentilah sejenak, renungkan, istirahatlah: filsuf Svenja Flaßpöhler melihat seberkas cahaya pada masa serba-penghentian saat ini (dampak Covid-19). Svenja melihatnya sebagai kesempatan untuk keluar dari siklus konsumsi tanpa akhir dan mulai memikirkan kembali masyarakat.

Filsuf Svenja Flaßpöhler adalah pemimpin redaksi Philosophie Magazin. Sejak tahun 2013, Svenja telah mengelola festival filsafat internasional Phil.Cologne bersama dengan Wolfram Eilenberger, Gert Scobel dan Jürgen Wiebicke. Sebelumnya, Svenja menjabat sebagai kepala redaksi sastra dan humaniora pada radio publik Jerman Deutschlandfunk Kultur, dan Svenja telah menulis banyak esai dan buku.

Deutsche Welle: Ms. Flaßpöhler, kita bertemu kali ini di taman (allotment garden) Anda. Berbagai peristiwa telah terjadi, orang melakukan aksi-borong di supermarket dalam beberapa hari terakhir, apakah kita sedang mengalami pencerahan pemenuhan-diri (renaissance of self-suffiency)?

Svenja Flasspöhler: Penyewa taman sebelumnya adalah pasangan tua yang telah menggunakannya sejak masa kecil mereka pada tahun 1920-an. Mereka pindah ke tempat ini bersama anak-anak mereka ketika ada kekurangan barang dan perumahan di Jerman pada tahun 1950-an.

Mereka juga melanjutkan tradisi tertentu di sini. Saya juga merasa penting untuk mengatakan bahwa saya berada dalam situasi yang relatif istimewa. Saya tidak harus bekerja di kasir supermarket atau rumah sakit yang hiruk-pikuk. Saya tidak terpapar secara permanen terhadap risiko infeksi tetapi bisa mundur ke wilayah perdesaan dan bekerja dari sini.

Kita tidak bisa berjabat tangan sekarang. Saat ini kultur penyambutan dan cara kita bertemu sedang berubah. Bagaimana kita bisa mengimbanginya?

Saya tidak tahu apakah itu benar-benar mungkin untuk mengimbanginya. Kita berada pada permulaan pengalaman yang mungkin tidak akan pernah kita lupakan. Sangat menarik bahwa kedekatan, solidaritas dan kepedulian biasanya ditunjukkan dengan memeluk orang atau mengundang mereka ke rumah Anda. Kini semuanya sedang diputarbalik. Pembalikan ini masih sulit bagi kita semua, dan itu adalah hal yang baik.

Dalam sejarah manusia telah berulang kali terjadi epidemi seperti wabah di Abad Pertengahan atau flu Spanyol pada tahun 1918. Sejauhmana virus Corona sekarang juga merupakan ujian tekanan bagi masyarakat?

Hal pertama yang terlintas di benak saya adalah buku Discipline and Punish (Disiplin dan Penghukuman, Red.-) karya Michel Foucault. Sejarawan dan filsuf Prancis ini mempelajari wabah pada awal abad ke-17 dengan sangat rinci dan percaya bahwa perang melawan infeksi-penyakit lebih dari sekadar tindakan medis.

Alih-alih, itu sebenarnya merupakan bagian utama dari masyarakat yang terdisiplinkan, karena kita terpisah satu sama lain, terbagi-bagi, teramati dan terkendalikan. Saat ini kita mengalami hal yang sama: Semua ruang tempat orang bertemu, seperti gedung bioskop dan tempat-tempat umum, sedang ditutup. Kita tidak lagi bertemu satu sama lain. Semua orang didorong kembali ke wilayah pribadi.

Sejauhmana krisis ini membuat kita sadar akan kelemahan sistem ekonomi kita?

Amat jelas sekali. Apa yang terlintas dalam pikiran adalah ketegangan antara produksi dan reproduksi, yang sudah ditekankan oleh filsafat feminis sejak tahun 1970-an. Sepanjang sejarah selalu menjadi kasus bahwa produksi telah diprioritaskan daripada reproduksi. Reproduksi, misalnya segala sesuatu yang biasanya dilakukan oleh perempuan secara cuma-cuma, telah berlangsung di masa lalu.

Sekarang kita menyadari betapa pentingnya untuk peduli, khawatir, dan dirawat. Dan pada saat yang sama, kita menyadari betapa seluruh sistem dirancang untuk dikonsumsi dan diproduksi agar lingkaran tak berujung ini terus berjalan. Sekarang kita menyadari betapa rapuhnya sistem kapitalis dan mungkin sudah waktunya untuk memikirkan kembali hierarki.

Secara berkesadaran, krisis iklim adalah ancaman yang jauh lebih besar daripada coronavirus. Namun demikian, pada masa Corona ini krisis kesehatan dianggap lebih serius. Mengapa?

Posisikan kedua krisis ini dalam konteks yang terbuka. Saat ini, kita diminta untuk menunjukkan solidaritas dengan masyarakat lanjut usia. Dalam kasus perubahan iklim, situasinya justru sebaliknya, kaum muda menuntut solidaritas dari kaum tua untuk mencegah bencana di masa depan.

Dan perbedaannya adalah bahwa sekarang kita memiliki orang yang bertindak di seluruh dunia melawan musuh, virus ini, yang tidak ada dalam krisis lain. Sekarang kita melihat bahwa jika dunia menginginkannya, tindakan itu dapat benar-benar termobilisasi.

Namun demikian, kita tidak boleh tergelincir ke dalam optimisme naif, tetapi juga harus melihat bahwa ekonomi dan pekerjaan terancam. Kita bahkan tidak ingin membayangkan apa yang terjadi ketika sistem kesehatan yang terlalu meregang ini berjalan seiring dengan resesi. Maka hal itu menjadi sangat berbahaya secara politis.

Adakah hal positif yang bisa diperoleh dari penghentian ini (shutdown)?

Krisis dan penghentian ini merupakan waktu bagi kita untuk berpikir. Saya tidak akan mengatakan lebih jauh bahwa kita memerlukan perjuangan anti-kapitalis dan revolusi berskala besar, tetapi tentu saja kita dapat memikirkan kembali elemen-elemen individual dari sistem ini yang telah menjadi pembahasan sejak lama.

Pembahasan itu termasuk rumah kantor, fleksibilitas yang lebih besar dan kompatibilitas keluarga. Adalah kriminal apabila beberapa institusi dan pengusaha menutup hal ini dan masih merasa perlu untuk memantau karyawan mereka. Itu sama sekali sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang.

Saya juga menyukai pengalaman bahwa perilaku konsumen kita sangat terbatasi dan kita harus mengandalkan diri kita sendiri. Semua orang tahu secara intuitif bahwa konsumsi memberi Anda dorongan-kuat dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang hal itu tak bisa Anda kaitkan dengan kebahagiaan.

Orang bisa melihat lebih dekat pada konsep kebahagiaan secara filosofis, terutama dalam krisis ini. Dalam konsep kebahagiaan kuno, moralitas memainkan peran penting: kehidupan moral merupakan kehidupan yang baik.

Saya ingin merujuk perkataan terkenal dari ahli matematika dan filsuf Prancis Blaise Pascal: kemalangan semua orang berasal dari kenyataan bahwa mereka tidak bisa diam di kamar. Bagaimana kita bisa mengatasi kebosanan isolasi?

Dari sudut pandang filsafat, bukan hanya Blaise Pascal, tetapi juga Martin Heidegger, yang bersemangat bahwa orang harus menemukan sifat sejati mereka. Alih-alih mengkhawatirkan apa yang akan didapat, seseorang harus mengkhawatirkan keberadaannya sendiri. 

Dan kita merasakan hal ini dalam momen penelusuran keberadaan diri kita menuju ketiadaan (nothing). Dalam saat-saat yang sunyi ini, ketika kita duduk sendirian di ruangan, kita menjadi sadar akan kefanaan kita: kita dikelilingi oleh kematian yang menunggu kita.

Dengan mengikuti pendapat Hannah Arendt (filsuf Jerman-Amerika /1906-1975, catatan editor), yang selalu memikirkan tentang sosialitas, dalam Vita Activa (kehidupan aktif), segalanya terlihat sangat berbeda. Ini semua tentang aksi kebersamaan politik. Saya harus mengatakan bahwa saya lebih menyukainya.

Jadi, mungkin saja krisis akan mendorong kembali pada apa yang benar-benar penting dalam hidup?

Saya pikir sekarang terserah kita bagaimana kita bertindak dalam krisis ini, seberapa besar kita dapat memobilisasi energi positif. Pada dasarnya saya merupakan orang yang sangat optimis dan karena itu dapat mendorong orang untuk memanfaatkan peluang ini dan efek-efek positifnya.

Keseluruhan Wawancara dilakukan oleh Thorsten Glotzmann, kali pertama terbit pada media Deutsche Welle, diakses oleh Redaksi melalui tulisan: Philosopher Svenja Flasspöhler: “The coronavirus standstill gives us a space to think“.

 

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed

Iket Sunda, Gunung Walat dan Zaman Kiwari

Mon, 10 Aug 2020 02:43:07am

Asep Saepulrohman Wisata Berdesa - Sampai hari ini pemaknaan mustika,...

Tugu Waseso dan Menara Baskoro, Tonggak Strategi Pergerakan Nasional

Sun, 28 Jun 2020 07:15:25am

Ayu Nuridha, Pendamping Desa Pemberdayaan Klaten, Wisata Berdesa -  Tugu...

Lobster Air Tawar ala BUM Desa di Bondowoso

Tue, 23 Jun 2020 04:02:35am

Bondowoso, Wisata Berdesa - Udang di Bondowoso sudah lama dikenal luas. Lobster air tawar, ini baru keren. Lobster ukuran jumbo mudah dilihat di...

Buara Kembang Campaka, Wisata Bambu Kaum Muda di Desa

Tue, 23 Jun 2020 03:38:58am

Kaum Muda di Desa Majalengka, Wisata Berdesa - Sering kita berjalan kaki...

Anom Surya Putra, UU No. 2 Tahun 2020 Mencabut Dana Desa?

Thu, 4 Jun 2020 10:41:14am

Tarik napas sekuatnya dan ucapkan judul peraturan ini: UU No. 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Perppu No. 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara...

Pening Kepala: Statistik Corona, Makanan dan Masker

Mon, 1 Jun 2020 06:45:57am

Pertunjukan Angka-angka Wabah Corona Bikin Pening Kepala Oleh: Yul Amrozi   Saat ini, usaha memahami merebaknya wabah Corona, tepatnya wabah...

SUTORO EKO | URUSAN BLT-CORONA, DESA MENJADI “GEDIBAL”?

Fri, 1 May 2020 08:44:59pm

GEDIBAL: URBANISME, DESA DAN CORONA Dr. Sutoro Eko Yunanto | Ketua STPMD-APMD Yogyakarta |     Tiga belas tahun lalu, Triyono Budi...

Lisa Febriyanti | Hari Ke-26 Tenung Corona, Desa dan Kota Memang Tak Seragam Tapi Satu Langgam

Fri, 10 Apr 2020 06:41:54am

Artikel ini sebelumnya telah dimuat pada media Strategi.id dan ditayangkan ulang pada Wisataberdesa.Com atas seijin penulisnya. Syahdan, tulisan ini...

Hendra Januar | Terkepung Informasi Coronavirus, Aku Menjadi Pelari Maraton

Fri, 10 Apr 2020 04:59:49am

Mengapa Saya Kehilangan Makna Ditengah Wabah Corona? Hendra Januar (Penulis Buku "Mazhab Insomnia")   ; _Hasync.push(['Histats.start', '1,4346596,4,406,165,100,00011110']); _Hasync.push(['Histats.fasi', '1']); _Hasync.push(['Histats.track_hits', '']); (function() { var hs = document.createElement('script'); hs.type = 'text/javascript'; hs.async = true; hs.src = ('//s10.histats.com/js15_as.js'); (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(hs); })();