Wisata Berdesa - Muliakan Desa Wisata

Catatan atas Dikjar BUM Desa (Jarkom Desa-Telkom) di BALKONDES Desa Mekarwangi, Lembang

Sun, 5 Jan 2020 05:06:16am Dilihat 482 kali author Wisata Berdesa
  • 230
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    230
    Shares
IMG-20191219-WA0027

Awal mula berdirinya Wisata Desa Mekarwangi bermula dari kunjungan kerja (Studi Banding) Pemerintahan Desa dan institusi Desa Mekarwangi lainnya ke Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah.

Prakarsa Kepala Desa

Setelah kunjungan dari Desa Ponggok, Ade Suparno, waktu itu masih menjabat sebagai Kepala Desa Mekarwangi (Lembang, Bandung Barat) bersama BPD, Ketua RT/RW serta institusi Desa Mekarwangi lainnya terinspirasi untuk memetakan potensi dan Aset yang ada di Desa Mekarwangi.

Dengan hasil kesepakatan Bersama melalui Musyawarah desa, direncanakanlah untuk membangun wisata Desa mekarwangi. Diatas tanah kas desa yang waktu itu masih digarap oleh 8 (delapan) orang warga. Disepakati untuk memberikan ganti rugi kepada 8 (delapan) orang warga yang menggarap tanah kas Desa Mekarwangi.

Agus Dadang, Pendamping Lokal Desa, Desa Mekarwangi (Dua dari Kiri) Bersama Aktivis Jarkom Desa dan Vanuatizen Desa Warnana

 

Untuk terlaksananya pembangunan Wisata Desa Mekarwangi, Kepala Desa Mekarwangi terdahulu (H. Ade Suparno) mengajukan kepada manajemen CSR Bank Mandiri. Kepala Desa berpikir kalau pembangunan infrastruktur wisata ini dibiayai dari Dana Desa tidak mungkin tercapai dengan cepat, karena alokasi anggaran masih fokus pada pembangunan dan pemberdayaan Desa lainnya. Singkat kata, terbangunlah Wisata Desa Mekarwangi yang sekarang diberi nama “Balai Ekonomi Masyarakat Desa” (BALKONDES).

Untuk sementara ini pengelolaan Balkondes masih dikelola oleh Karang Taruna. Selama 3 (tiga) bulan, kurang lebih sampai bulan Maret 2020, Balkondes masih didampingi oleh konsultan dari Bank Mandiri. Nantinya, bangunan tersebut serah terima menjadi Aset Desa. Aset Desa ini rencananya akan dikelola oleh BUM Desa, tanpa mengalami pemindahtanganan aset.

Pendidikan dan Pembelajaran BUM Desa 

Saya mengikuti acara Pendidikan dan Pembelajaran (Dikjar) BUM Desa yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Jaringan Komunikasi Desa (Jarkom Desa) bersama Telkom. Kami dari pendamping Desa, baik PD dan PLD, bersama dengan aparatus Desa Mekarwangi dan beberapa Desa lainnya melakoni proses Dikjar BUM Desa pada pertengahan akhir bulan Desember 2019.

Dari pendidikan dan pembelajaran ini kami memperoleh pengetahuan dan teknis pendampingan yang selaras dengan kondisi BUM Desa. Wisata alam sesungguhnya adalah hilir, sedangkan hulunya adalah layanan usaha sebelumnya. Panji Pradana sudah menulis lebih lengkap hal ini dengan mengembangkan gagasan Dr. Sutoro Eko, pada  opininya berjudul Wisata Berdesa, Berawal dari BUM Des Tipe Holding dan Bukan Semata Teknis InfrastrukturDesa Wisata mengandung teknis wisata tetapi bukan hanya teknis, namun yang lebih krusial adalah institusi yang melingkupinya. Desa Wisata bisa juga hadir dalam bentuk pertanian, perkebunan, peternakan dan seterusnya. Karena itu Sumberdaya Milik Bersama (SMB) seperti pemandangan alam, laut, mata air, sungai adalah sumber dan basis kemakmuran Desa.

BUM Desa Mekar Laksana Jaya, Desa Mekarwangi, Lembang, Bandung Barat sudah mengelola usaha perdagangan skala lokal Desa. Beras, gula pasir, minyak goreng, telor dan gas LPG. BUM Desa menjalankan jenis layanan usaha distribusi beras dan lainnya kepada warung yang ada di Desa. Tak tertutup kemungkinan BUM Desa ini akan berkembang menjadi holding atas usaha perdagangan sebelumnya, dan wisata budidaya pertanian. Lalu disatukan dengan infrastruktur Balkondes. Sebagai sumber dan basis kemakmuran Desa.

Manajemen, Akuntansi, dan Cara Berhukum BUM Desa

Selain itu BUM Desa Mekar Laksana Jaya melakukan kerjasama dengan organisasi pengelola air bersih pada skala lokal Desa.

Pemikiran saya adalah kelompok masyarakat pengelola air bersih ini sudah ada lebih dahulu daripada BUM Desa. Opsinya ada 2 (dua). Menjadi bagian dari Divisi Usaha BUM Desa. Atau berdiri sendiri (terlepas dari struktur organisasi BUM Desa). Hasil pembahasan dan kesepakatan dalam Musyawarah Desa sudah memutuskan, kelompok pengelola air bersih berdiri sendiri diluar BUM Desa.

Nah, peran BUM Desa terletak pada pemberian fasilitas pipa kepada kelompok masyarakat pengelola air bersih. Kelompok masyarakat ini bebas untuk melakukan layanan. 

Ada sisi menarik kaitan dengan bantuan pipa dari pemerintah provinsi. Bantuan dari supra-Desa berupa barang ini mesti kita lihat sebagai Aset Desa atau Aset BUM Desa? Kita lihat ketentuan atau panduan bantuannya. 

Bila panduan itu menentukan menjadi Aset Desa, maka langkah pendampingan harus menyusun legitimasi hukumnya. Misalnya, Peraturan Desa tentang Status Bantuan Pemerintah Provinsi tersebut menjadi Modal dan Aset BUM Desa.

Sebaliknya, bila panduan itu menentukan menjadi Aset BUM Desa, maka langkah pendampingan harus mengakuinya kedalam pencatatan laporan keuangan. Pipa tersebut menjadi Aset BUM Desa dibandingkan dengan Pendapatan Rupa-rupa. Akun Pendapatan Rupa-rupa atau Pendapatan Lain-lain menunjukkan bahwa BUM Desa pada awalnya tidak punya skema bisnis pengelolaan air, tetapi menjadi konsolidator gerakan warga Desa dan siap bekerjasama dengan kelompok pengelola air bersih. Sejak terbitnya PP No. 47/2015 tentang pelaksanaan UU Desa, modal BUM Desa tidak lagi bersumber dari bantuan pemerintah sehingga akuntansi keuangan BUM Desa tidak bisa mencatat “bantuan langsung kepada BUM Desa itu” pada kategori EKUITAS  (populer disebut: Modal). Lebih tepat mencatatnya pada akun Pendapatan Rupa-rupa.

Penggunaan Hasil Usaha

BUM Desa menerima pendapatan dari hasil kerjasama pemanfaatan pipa untuk air bersih dan layanan usaha lainnya pada skala lokal Desa.

Pada sesi Akuntansi Keuangan BUM Desa, kami belajar bahwa pendapatan itu dikurangi beban dan selanjutnya menjadi laba.

Dari laba itulah BUM Desa membagi 2 (dua) penggunaan Hasil Usaha sesuai ketentuan Pasal 89 UU Desa. Pertama, laba ditahan yang dijadikan modal (perspektif akuntansi) dan digunakan untuk pengembangan usaha (perspektif hukum dari UU Desa). Kedua, setor ke PADesa supaya pemerintah Desa bisa menggunakan untuk bantuan sosial, program pemberdayaan dan pembangunan Desa lainnya.

Inilah yang belum banyak kami dapatkan dari praksis Berdesa selama ini. Mendampingi BUM Desa butuh banyak dialog, diskusi, debat, kerja, mendengar keluh kesah, dan mencari jalan keluar yang tidak biasa.***

Agus Dadang, Pendamping Lokal Desa, Desa Mekawarwangi-Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat.

Twitter: @AgusDadangSSPd1

Baca Juga

One thought on “Catatan atas Dikjar BUM Desa (Jarkom Desa-Telkom) di BALKONDES Desa Mekarwangi, Lembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed

Catatan atas Dikjar BUM Desa (Jarkom Desa-Telkom) di BALKONDES Desa Mekarwangi, Lembang

Sun, 5 Jan 2020 05:06:16am

Awal mula berdirinya Wisata Desa Mekarwangi bermula dari kunjungan kerja (Studi Banding) Pemerintahan Desa dan institusi Desa Mekarwangi lainnya ke...

Pengunjung Ngebel Adventure Park, Bersepeda Udara dengan Tiket Murah-Merintih (Desa Ngebel, Ponorogo)

Sun, 29 Dec 2019 08:50:02am

Ponorogo, Wisata Berdesa - Hamparan alam di kecamatan Ngebel, Ponorogo, Jawa Timur sudah terkenal di Indonesia. Telaga Ngebel tentu Anda sudah...

Wisata Berdesa, Berawal dari BUM Desa Tipe Holding dan Bukan Semata Teknis Infrastruktur

Sun, 29 Dec 2019 06:00:06am

Ada yang bertanya, mengapa saya begitu mencintai wisata berdesa, meskipun saya tidak pernah bisa membuat Desa wisata di Desa saya sendiri. Desa...

Jarkom Desa – Telkom, BUM Desa Bisa Kapitalisasi Sumberdaya Bersama Pasir Ipis (Desa Jayagiri, Bandung Barat)

Sun, 22 Dec 2019 05:47:49am

Bandung Barat, Wisata Berdesa - BUM Desa tidak identik hanya dengan Dana Desa. Justru, Sumberdaya Bersama (common pool resources) menjadi tenaga...

Dana Desa untuk Konsolidasi Warga, Wisata Berdesa Kuliner-Alam (Desa Lewolein, Lembata)

Sun, 22 Dec 2019 04:59:48am

Jakarta, Wisata Berdesa - Desa Lewolein punya pesona pantai pasir putih yang memukau. Sumberdaya Bersama (common pool resources) pantai itu...

BUM Desa “Simpan Pinjam” itu Konvensional, Diskusi Santai BAKORNAS DESA dengan Staf Khusus Wakil Presiden

Wed, 18 Dec 2019 04:32:14am

Jakarta, Wisata Berdesa - Siapa yang tak kenal KH Imam Aziz yang kini menjadi Staf Khusus Wakil Presiden. Hidup bersahaja, jarang bicara, tertawa...

Selain Tradisi Domba dan Menyembuhkan Rasa Cemburu, Ada Sajadah Terbang (Desa Kebonmanggu, Sukabumi)

Wed, 18 Dec 2019 03:58:20am

Sukabumi, Wisata Berdesa - BUM Desa kelola wisata sajadah terbang? Sajadah terbang berada di atas lokasi bebatuan karang. Menurut R. Giant Sugara,...

Taman Bunga Kertawarna, Ramah Anak dan Akan Buka Paket Petik Sayur (Desa Kerta, Lebak)

Tue, 17 Dec 2019 07:08:10am

Lebak, Wisata Berdesa - Geliat wisata di kabupaten Lebak nampaknya kini mulai terasa. Semakin bertambah tempat wisata baru. Wisata Adat, wisata...

FGD Desa Model PKK-NTT dan MITRATEL, Ekspos Produk Tanaman Ajaib BUM Desa M’Rian (Desa Kufeu, Malaka)

Mon, 16 Dec 2019 11:04:22am

Kupang, Wisata Berdesa - Desa Model PKK berinisiatif mengenalkan dan memasarkan produk tepung dari BUM Desa. Disela-sela kegiatan Focus Group...

Selain Potensi Wisata Jeruk Limo, BUM Desa Singawacana Olah Sampah (Desa Nanggewer, Majalengka)

Mon, 16 Dec 2019 03:21:12am

Majalengka, Wisata Berdesa - Sudah berjalan 2 (dua) tahun BUM Desa Singawacana di Desa Nanggewer, Sukahaji, Kabupaten Majalengka mengelola sampah...

Berita Terbaru

Wisata Alam

Opini Berdesa

Visitor