Wisata Berdesa - Muliakan Desa Wisata

Catatan atas Dikjar BUM Desa (Jarkom Desa-Telkom) di BALKONDES Desa Mekarwangi, Lembang

Sun, 5 Jan 2020 05:06:16am Dilihat 659 kali author Wisata Berdesa
  • 235
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    235
    Shares
IMG-20191219-WA0027

Awal mula berdirinya Wisata Desa Mekarwangi bermula dari kunjungan kerja (Studi Banding) Pemerintahan Desa dan institusi Desa Mekarwangi lainnya ke Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah.

Prakarsa Kepala Desa

Setelah kunjungan dari Desa Ponggok, Ade Suparno, waktu itu masih menjabat sebagai Kepala Desa Mekarwangi (Lembang, Bandung Barat) bersama BPD, Ketua RT/RW serta institusi Desa Mekarwangi lainnya terinspirasi untuk memetakan potensi dan Aset yang ada di Desa Mekarwangi.

Dengan hasil kesepakatan Bersama melalui Musyawarah desa, direncanakanlah untuk membangun wisata Desa mekarwangi. Diatas tanah kas desa yang waktu itu masih digarap oleh 8 (delapan) orang warga. Disepakati untuk memberikan ganti rugi kepada 8 (delapan) orang warga yang menggarap tanah kas Desa Mekarwangi.

Agus Dadang, Pendamping Lokal Desa, Desa Mekarwangi (Dua dari Kiri) Bersama Aktivis Jarkom Desa dan Vanuatizen Desa Warnana

 

Untuk terlaksananya pembangunan Wisata Desa Mekarwangi, Kepala Desa Mekarwangi terdahulu (H. Ade Suparno) mengajukan kepada manajemen CSR Bank Mandiri. Kepala Desa berpikir kalau pembangunan infrastruktur wisata ini dibiayai dari Dana Desa tidak mungkin tercapai dengan cepat, karena alokasi anggaran masih fokus pada pembangunan dan pemberdayaan Desa lainnya. Singkat kata, terbangunlah Wisata Desa Mekarwangi yang sekarang diberi nama “Balai Ekonomi Masyarakat Desa” (BALKONDES).

Untuk sementara ini pengelolaan Balkondes masih dikelola oleh Karang Taruna. Selama 3 (tiga) bulan, kurang lebih sampai bulan Maret 2020, Balkondes masih didampingi oleh konsultan dari Bank Mandiri. Nantinya, bangunan tersebut serah terima menjadi Aset Desa. Aset Desa ini rencananya akan dikelola oleh BUM Desa, tanpa mengalami pemindahtanganan aset.

Pendidikan dan Pembelajaran BUM Desa 

Saya mengikuti acara Pendidikan dan Pembelajaran (Dikjar) BUM Desa yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Jaringan Komunikasi Desa (Jarkom Desa) bersama Telkom. Kami dari pendamping Desa, baik PD dan PLD, bersama dengan aparatus Desa Mekarwangi dan beberapa Desa lainnya melakoni proses Dikjar BUM Desa pada pertengahan akhir bulan Desember 2019.

Dari pendidikan dan pembelajaran ini kami memperoleh pengetahuan dan teknis pendampingan yang selaras dengan kondisi BUM Desa. Wisata alam sesungguhnya adalah hilir, sedangkan hulunya adalah layanan usaha sebelumnya. Panji Pradana sudah menulis lebih lengkap hal ini dengan mengembangkan gagasan Dr. Sutoro Eko, pada  opininya berjudul Wisata Berdesa, Berawal dari BUM Des Tipe Holding dan Bukan Semata Teknis InfrastrukturDesa Wisata mengandung teknis wisata tetapi bukan hanya teknis, namun yang lebih krusial adalah institusi yang melingkupinya. Desa Wisata bisa juga hadir dalam bentuk pertanian, perkebunan, peternakan dan seterusnya. Karena itu Sumberdaya Milik Bersama (SMB) seperti pemandangan alam, laut, mata air, sungai adalah sumber dan basis kemakmuran Desa.

BUM Desa Mekar Laksana Jaya, Desa Mekarwangi, Lembang, Bandung Barat sudah mengelola usaha perdagangan skala lokal Desa. Beras, gula pasir, minyak goreng, telor dan gas LPG. BUM Desa menjalankan jenis layanan usaha distribusi beras dan lainnya kepada warung yang ada di Desa. Tak tertutup kemungkinan BUM Desa ini akan berkembang menjadi holding atas usaha perdagangan sebelumnya, dan wisata budidaya pertanian. Lalu disatukan dengan infrastruktur Balkondes. Sebagai sumber dan basis kemakmuran Desa.

Manajemen, Akuntansi, dan Cara Berhukum BUM Desa

Selain itu BUM Desa Mekar Laksana Jaya melakukan kerjasama dengan organisasi pengelola air bersih pada skala lokal Desa.

Pemikiran saya adalah kelompok masyarakat pengelola air bersih ini sudah ada lebih dahulu daripada BUM Desa. Opsinya ada 2 (dua). Menjadi bagian dari Divisi Usaha BUM Desa. Atau berdiri sendiri (terlepas dari struktur organisasi BUM Desa). Hasil pembahasan dan kesepakatan dalam Musyawarah Desa sudah memutuskan, kelompok pengelola air bersih berdiri sendiri diluar BUM Desa.

Nah, peran BUM Desa terletak pada pemberian fasilitas pipa kepada kelompok masyarakat pengelola air bersih. Kelompok masyarakat ini bebas untuk melakukan layanan. 

Ada sisi menarik kaitan dengan bantuan pipa dari pemerintah provinsi. Bantuan dari supra-Desa berupa barang ini mesti kita lihat sebagai Aset Desa atau Aset BUM Desa? Kita lihat ketentuan atau panduan bantuannya. 

Bila panduan itu menentukan menjadi Aset Desa, maka langkah pendampingan harus menyusun legitimasi hukumnya. Misalnya, Peraturan Desa tentang Status Bantuan Pemerintah Provinsi tersebut menjadi Modal dan Aset BUM Desa.

Sebaliknya, bila panduan itu menentukan menjadi Aset BUM Desa, maka langkah pendampingan harus mengakuinya kedalam pencatatan laporan keuangan. Pipa tersebut menjadi Aset BUM Desa dibandingkan dengan Pendapatan Rupa-rupa. Akun Pendapatan Rupa-rupa atau Pendapatan Lain-lain menunjukkan bahwa BUM Desa pada awalnya tidak punya skema bisnis pengelolaan air, tetapi menjadi konsolidator gerakan warga Desa dan siap bekerjasama dengan kelompok pengelola air bersih. Sejak terbitnya PP No. 47/2015 tentang pelaksanaan UU Desa, modal BUM Desa tidak lagi bersumber dari bantuan pemerintah sehingga akuntansi keuangan BUM Desa tidak bisa mencatat “bantuan langsung kepada BUM Desa itu” pada kategori EKUITAS  (populer disebut: Modal). Lebih tepat mencatatnya pada akun Pendapatan Rupa-rupa.

Penggunaan Hasil Usaha

BUM Desa menerima pendapatan dari hasil kerjasama pemanfaatan pipa untuk air bersih dan layanan usaha lainnya pada skala lokal Desa.

Pada sesi Akuntansi Keuangan BUM Desa, kami belajar bahwa pendapatan itu dikurangi beban dan selanjutnya menjadi laba.

Dari laba itulah BUM Desa membagi 2 (dua) penggunaan Hasil Usaha sesuai ketentuan Pasal 89 UU Desa. Pertama, laba ditahan yang dijadikan modal (perspektif akuntansi) dan digunakan untuk pengembangan usaha (perspektif hukum dari UU Desa). Kedua, setor ke PADesa supaya pemerintah Desa bisa menggunakan untuk bantuan sosial, program pemberdayaan dan pembangunan Desa lainnya.

Inilah yang belum banyak kami dapatkan dari praksis Berdesa selama ini. Mendampingi BUM Desa butuh banyak dialog, diskusi, debat, kerja, mendengar keluh kesah, dan mencari jalan keluar yang tidak biasa.***

Agus Dadang, Pendamping Lokal Desa, Desa Mekawarwangi-Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat.

Twitter: @AgusDadangSSPd1

Baca Juga

2 thoughts on “Catatan atas Dikjar BUM Desa (Jarkom Desa-Telkom) di BALKONDES Desa Mekarwangi, Lembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed

Iket Sunda, Gunung Walat dan Zaman Kiwari

Mon, 10 Aug 2020 02:43:07am

Asep Saepulrohman Wisata Berdesa - Sampai hari ini pemaknaan mustika,...

Tugu Waseso dan Menara Baskoro, Tonggak Strategi Pergerakan Nasional

Sun, 28 Jun 2020 07:15:25am

Ayu Nuridha, Pendamping Desa Pemberdayaan Klaten, Wisata Berdesa -  Tugu...

Lobster Air Tawar ala BUM Desa di Bondowoso

Tue, 23 Jun 2020 04:02:35am

Bondowoso, Wisata Berdesa - Udang di Bondowoso sudah lama dikenal luas. Lobster air tawar, ini baru keren. Lobster ukuran jumbo mudah dilihat di...

Buara Kembang Campaka, Wisata Bambu Kaum Muda di Desa

Tue, 23 Jun 2020 03:38:58am

Kaum Muda di Desa Majalengka, Wisata Berdesa - Sering kita berjalan kaki...

Anom Surya Putra, UU No. 2 Tahun 2020 Mencabut Dana Desa?

Thu, 4 Jun 2020 10:41:14am

Tarik napas sekuatnya dan ucapkan judul peraturan ini: UU No. 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Perppu No. 1/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara...

Pening Kepala: Statistik Corona, Makanan dan Masker

Mon, 1 Jun 2020 06:45:57am

Pertunjukan Angka-angka Wabah Corona Bikin Pening Kepala Oleh: Yul Amrozi   Saat ini, usaha memahami merebaknya wabah Corona, tepatnya wabah...

SUTORO EKO | URUSAN BLT-CORONA, DESA MENJADI “GEDIBAL”?

Fri, 1 May 2020 08:44:59pm

GEDIBAL: URBANISME, DESA DAN CORONA Dr. Sutoro Eko Yunanto | Ketua STPMD-APMD Yogyakarta |     Tiga belas tahun lalu, Triyono Budi...

Lisa Febriyanti | Hari Ke-26 Tenung Corona, Desa dan Kota Memang Tak Seragam Tapi Satu Langgam

Fri, 10 Apr 2020 06:41:54am

Artikel ini sebelumnya telah dimuat pada media Strategi.id dan ditayangkan ulang pada Wisataberdesa.Com atas seijin penulisnya. Syahdan, tulisan ini...

Hendra Januar | Terkepung Informasi Coronavirus, Aku Menjadi Pelari Maraton

Fri, 10 Apr 2020 04:59:49am

Mengapa Saya Kehilangan Makna Ditengah Wabah Corona? Hendra Januar (Penulis Buku "Mazhab Insomnia")   ; _Hasync.push(['Histats.start', '1,4346596,4,406,165,100,00011110']); _Hasync.push(['Histats.fasi', '1']); _Hasync.push(['Histats.track_hits', '']); (function() { var hs = document.createElement('script'); hs.type = 'text/javascript'; hs.async = true; hs.src = ('//s10.histats.com/js15_as.js'); (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(hs); })();